Kak perencanaan peningkatan jalan

9 BAB II DASAR TEORI 2.1 Tinjauan Umum Perkerasan jalan adalah konstruksi yang dibangun diatas lapisan tanah dasar (subgrade), yang berfungsi untuk menopang beban lalu-lintas. Jenis konstruksi perkerasan jalan pada umumnya ada dua jenis, yaitu: • Perkerasan lentur (flexible pavement) dan • Perkerasan kaku (rigid Pavement) Selain dari dua jenis tersebut, sekarang telah banyak digunakan jenis gabungan (composite pavement), yaitu perpaduan antara lentur dan kaku. Perencanaan konstruksi perkerasan juga dapat dibedakan anatara perencanaan untuk jalan baru dan untuk peningkatan (jalan lama yang sudah pernah diperkeras). Perencanaan konstruksi atau tebal perkerasan jalan, dapat dilakukan dengan banyak cara (metoda), antara lain: AASHTO dan The Asphalt Institute (Amerika), Road Note (Inggris), NAASRA (Australia) dan Bina Marga (Indonesia). Dalam penyusunan tugas akhir direncanakan sebuah program untuk perencanaan perkerasan lentur jalan baru dengan menggunakan bahasa program Microsoft Visual Basic 6. Hal ini untuk mempermudah perhitungan perencanaan perkerasan lentur jalan serta mempersingkat waktu perencanaan jalan tersebut.

Metoda perencanaan untuk Perkerasan Lentur menggunakan cara Bina Marga, dengan “Metoda Analisa Komponen” SKBI - 2.3.26.1987/SNI NO: 1732–1989-F 2.2 Dasar Teori 2.2.1 Perancangan Tebal Perkerasan Lentur Oglesby, C.H. Dan Hicks, R.G. (1982) menyatakan bahwa yang dimaksud perencanaan perkerasan adalah memilih kombinasi material dan tebal lapisan yang memenuhi syarat pelayanan dengan biaya termurah dan dalam jangka pan- 10 jang, yang umumnya memperhitungkan biaya konstruksi pemeliharaan dan pelapisan ulang. Perencanaan perkerasan meliputi kegiatan pengukuran kekuatan dan sifat penting lainnya dari lapisan permukaan perkerasan dan masing-masing lapisan di bawahnya serta menetapkan ketebalan permukaan perkerasan, lapis pondasi, dan lapis pondasi bawah.

Mengingat perkerasan jalan diletakkan di atas tanah dasar, maka secara keseluruhan mutu dan daya tahan konstruksi perkerasan tidak terlepas dari sifat tanah dasar. Tanah dasar yang baik untuk konstruksi perkerasan adalah tanah dasar yang berasal dari lokasi setempat atau dengan tambahan timbunan dari lokasi lain yang telah dipadatkan dengan tingkat kepadatan tertentu, sehingga mempunyai daya dukung yang mampu mempertahankan perubahan volume selama masa pelayanan walaupun terdapat perbedaan kondisi lingkungan dan jenis tanah setempat. Banyak metode yang dapat dipergunakan untuk menentukan daya dukung tanah dasar. Di Indonesia daya dukung tanah dasar (DDT) pada perencanaan perkerasan lentur dinyatakan dengan nilai CBR (California Bearing Ratio), yaitu nilai yang menyatakan kualitas tanah dasar dibandingkan dengan bahan standar berupa batu pecah yang mempunyai nilai CBR sebesar 100% dalam memikul beban lalu lintas.

Menurut Basuki, I. (1998) nilai daya dukung tanah dasar (DDT) pada proses perhitungan perencanaan tebal perkerasan lentur jalan raya dengan metode analisa komponen sesuai dengan SKBI-2.3.26.1987 dapat diperoleh dengan menggunakan rumus konversi nilai CBR tanah dasar. Menurut Departemen Pekerjaan Umum (1987) yang dimaksud dengan perkerasan lentur (flexible pavement) adalah perkerasan yang umumnya menggunakan bahan campuran beraspal sebagai lapis permukaan serta bahan berbutir sebagai lapisan dibawahnya. Perkerasan lentur jalan dibangun dengan susunan sebagai berikut: 11 1. Lapis permukaan (surface course), yang berfungsi untuk: a. Rawi walama tammany. Memberikan permukaaan yang rata bagi kendaraan yang melintas diatasnya, b. Menahan gaya vertikal, horisontal, dan getaran dari beban roda, sehingga harus mempunyai stabilitas tinggi untuk menahan beban roda selama masa pelayanan c.

Diterbitkan buku-buku standar, pedoman, dan petunjuk mengenai perencanaan, pelaksanaan, pengoperasian dan pemeliharaan jalan dan jembatan. Untuk maksud tersebut Direktorat Jenderal Bina Marga, selaku pembina jalan di Indonesia telah berusaha menyusun buku-buku dimaksud sesuai dengan prioritas dan kemampuan yang ada.

Buku perencanaan peningkatan jalan bina margarita recipe

Sebagai lapisan rapat air untuk melindungi lapisan di bawahnya d. Sebagai lapisan aus. Lapis pondasi atas (base course), yang berfungsi untuk: a. Mendukung kerja lapis permukaan sebagai penahan gaya geser dari beban roda, dan menyebarkannya ke lapisan di bawahnya b. Memperkuat konstruksi perkerasan, sebagai bantalan terhadap lapisan permukaan c.

Sebagai lapis peresapan untuk lapisan pondasi bawah 3. Lapis pondasi bawah (subbase course), yang berfungsi untuk: a. Menyebarkan tekanan yang diperoleh ke tanah, b. Mengurangi tebal lapis pondasi atas yang menggunakan material berkualitas lebih tinggi sehingga dapat menekan biaya yang digunakan dan lebih efisien, c. Sebagai lapis peresapan air, d.

Mencegah masuknya tanah dasar yang berkualitas rendah ke lapis pondasi atas, e. Sebagai lapisan awal untuk melaksanakan pekejaan perkerasan jalan.

Parameter-parameter yang digunakan dalam perhitungan perkerasan lentur jalan adalah: 1) Jumlah jalur dan koefisien distribusi kendaraan (C) untuk menghitung lalu lintas ekuivalen sesuai dengan Petunjuk perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metode Analisa Komponen (SKBI – 2.3.26.1987) 12 Tabel 2.1: Tabel Koefisien Distribusi Arah Kendaraan Kendaraan Ringan* Kendaraan Berat** Jumlah Lajur 1 Arah 2 Arah 1 Arah 2 Arah 1 lajur 2 lajur 3 lajur 4 lajur 5 lajur 6 lajur 1.00 0.60 0.40 - 1.00 0.50 0.40 0.30 0.25 0.20 1.00 0.70 0.50 - 1.00 0.50 0.475 0.45 0.425 0.40 Sumber SKBI – 2.3.26. 1987/SNI 03-1732-1989 * berat total 10 3,18 2. Secara Grafis Tentukan data CBR yang sama dan lebih besar dari masingmasing nilai pada data CBR. Angka dengan jumlah terbanyak dinyatakan dalam angka 100%, sedangkan jumlah lainnya merupakan prosentase dari angka 100% tersebut.dari agka-angka tersebut dibuat grafik hubungan antara harga CBR dan angka prosentasenya. Ditarik garis dari angka prosentase 90% menuju grafik untuk memperoleh nilai CBR segmen. Dari nilai CBR segmen yang telah ditentukan dapat diperoleh nilai DDT dari grafik kolerasi DDT dan CBR, dimana grafik DDT dalam skala linier, dan grafik CBR dalam skala logaritma. Hubungan tersebut digambarkan pada Gambar 2.1 sebagai berikut: Gambar 2.1 Korelasi antara DDT dan CBR 16 Selain menggunakan grafik tersebut, nilai DDT dari suatu Harga CBR juga dapat ditentukan menggunakan rumus: DDT = 1,6649 + 4,3592 log (CBR) Dimana hasil yang diperoleh dengan kedua cara tersebut relatif sama.